Rabu, 27 Januari 2010

Pengaruh Komunikasi Keluarga terhadap Tingkat Sosial Anak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kebahagiaan paling mendalam, semangat paling hebat, dan ketenangan jiwa paling terasa akan diperoleh seorang anak dari keluarganya yang penuh dengan kasih sayang, sebab kasih sayang yang diperoleh dari keluarga laksana tetesan embun di tengah padang pasir bagi seorang musafir yang telah lama dalam perjalanan. Anak yang hidup tanpa kasih sayang yang tulus dari orang tuanya tidak akan merasakan kedamaian dan ketenangan dalam hidupnya.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Setiap keluarga memikul tanggung jawab terhadap keselamatan, ketenangan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup setiap anggotanya. Pendidikan pertama diperoleh seorang anak dari orang tuanya. Dengan orang tuanyalah seseorang anak memulai interaksi dan komunikasinya.
Komunikasi merupakan hal penting dalam kehidupan individu untuk berinteraksi dengan lingkungannya. “ Dalam dunia modern komunikasi bukan saja mendasari interaksi sosial. Teknologi komunikasi telah berkembang pesat begitu rupa sehingga tidak ada satu masyarakatpun yang mampu bertahan tanpa komunikasi. “ Bayi yang baru lahir sekalipun sudah memerlukan komunikasi untuk menyampaikan apa yang ia ingin dan perlukan melalui tangisan. Dengan tangisanlah ia menyampaikan pesan bahwa ia haus, lapar, sakit, ataupun hanya sekedar ingin dibelai oleh ibunya.
Percakapan yang hangat antara anak dan orang tua mempunyai arti dan kebahagiaan yang penting bagi seorang anak. Senyum orang tua jika anak berbuat baik dapat membuat anak termotivasi untuk selalu berbuat baik. Cerita-cerita anak jika didengarkan dengan baik akan menjadikan anak lebih bersikap terbuka dan merasa dirinya dihargai. Penghargaan akan sangat penting artinya bagi seorang anak untuk menumbuhkan sikap percaya diri anak. “ Percaya diri merupakan salah satu ciri atau karakteristik utama dari pribadi yang sukses. “
Ada jutaan keluarga yang para anggotanya kelihatan dapat bergaul rukun, tetapi hanya karena menghindari pengungkapan perasaan terbuka dan apa adanya, maka para anggota keluarga tersebut tidak dapat benar-benar saling mengenal satu sama lain. Dengan demikian, mereka tidak bisa mengalami keindahan dari keakraban dan persatuan yang berasal dari komunikasi yang terbuka, jujur dan konstruktif. Bahkan dalam banyak keluarga yang cukup rukun pun sering terjadi kesalah pahaman dan hal yang menyakitkan hati, sehingga kegembiraan dan kepuasan dalam hidup terganggu.
Dari uraian di atas, dapat terlihat betapa pentingnya terciptanya suasana komunikatif dalam keluarga, sehingga anak akan merasa keluarga adalah istana, harta dan puisi yang paling indah. Juga sesuatu yang terpenting dalam hidupnya.
Adapun yang penulis jadikan latar belakang masalah adalah hubungan komunikasi keluarga dengan sikap sosial anak. Latar belakang inilah yang mendorong penulis untuk menggali dan membahas judul skripsi ini, yaitu: “ Pengaruh Komunikasi Keluarga Terhadap Sikap Sosial Anak

B. Alasan Pemilihan Judul
Beberapa alasan yang mendorong penulis untuk membahas masalah pengaruh komunikasi keluarga terhadap sikap sosial anak, adalah sebagai berikut:
1. Sikap sosial perlu dibentuk semenjak masa kanak-kanak untuk bekal kehidupan masa remaja dan dewasa.
2. Banyaknya masalah keluarga yang disebabkan oleh komunikasi yang buruk.
3. Tingkat kebutuhan hidup yang semakin kompleks membuat orang tua pusing memikirkan ekonomi keluarga, sehingga komunikasi dalam keluarga ikut terganggu.
4. Anak yang dibesarkan dalam ketidak harmonisan keluarga mudah dipengaruhi hal-hal yang negatif.



C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Mengingat permasalahan yang ada kaitannya dengan komunikasi dan sikap sosial sangat luas sekali, maka penulis membatasi masalah tersebut sebagai berikut :
a. Komunikasi yang dimaksud adalah kontak antara anak dan orang tua atau keluarga dekat serta antara anak dengan teman-temannya.
b. Orang tua adalah bapak dan ibu yang bertanggung jawab memelihara dan mengasuh anak yang bersekolah
c. Anak dalam pembahasan skripsi ini adalah keturunan dari orang tua yang berusia SD ( usia 6-12 tahun )
2. Perumusan Masalah
Untuk mempermudah pembahasan, penulis memberikan perumusan masalah yaitu “ adakah pengaruh yang signifikan antara komunikasi keluarga dengan sikap sosial anak ? “

D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara global tentang penulisan skripsi ini dan merupakan rangkaian apa saja yang akan diuraikan nantinya, sehingga diharapkan dapat mempermudah pembaca dalam mengikuti tahapan pembahasannya. Susunan penulisan skripsi ini diuraikan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan
Pada bab ini akan diuraikan latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, pembatasan dan perumusan masalah, serta sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan Pustaka
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pengertian komunikasi keluarga, proses komunikasi keluarga, urgensi dan tujuan komunikasi keluarga, hambatan-hambatan dan usaha-usaha untuk menciptakan suasana komunikatif dan sikap sosial yang meliputi perkembangan sikap sosial anak, peranan keluarga terhadap perkembangan sosial anak, arti pergaulan dan teman bagi anak.
BAB III : Metodologi Penelitian
Pada bab ini diuraikan metodologi penelitian, variabel penelitian, definisi operasional variabel, waktu dan tempat penelitian, populasi dan sampel penelitian, tekhnik pengumpulan data, dan tekhnik pengolahan data dan interprestasi data.
BAB IV : Hasil Penelitian
Dalam bab ini akan dibahas tentang gambaran umum tempat penelitian , tingkat komunikasi keluarga dan sikap sosial anak di Wilayah Rt 12/02 Kelurahan Meruya Kembangan Jakarta Barat, analisis dan interprestasi data.
BAB V : Penutup
Pada bab ini penulis memberikan kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian sesuai dengan apa yang dirumuskan beserta saran-saran guna memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Komunikasi Keluarga
1. Pengertian Komunikasi Keluarga
Secara etimologi atau menurut asal katanya istilah komunikasi berasal dari perkataan bahasa Inggris “ Communication “ yang bersumber dari kata lain “ Communicatio “ yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran. Makna hakiki dari communicatio ini adalah communis yang berarti sama, jelasnya kesamaan arti. Perkataan communis tersebut dalam pembahasan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan partai komunis yang sering dijumpai dalam kegiatan politik.
Jadi komunikasi berlangsung apabila orang –orang yang terlibat dalam komunikasi harus terdapat kesamaan arti atau makna mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan. Jelasnya, jika seseorang mengerti tentang sesuatu hal yang dikemukakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Hal ini bukan berarti kedua belah pihak harus menyetujui sesuatu gagasan tersebut. Yang penting adalah kedua belah pihak sama-sama mengerti gagasan tersebut.
Dari tinjauan terhadap komunikasi secara etimologis tadi, dapat diambil kesimpulan bahwa :
a. Komunikasi paling sedikit meliputi tiga komponen yaitu, komunikator, komunikan dan isi komunikasi.
b. Pesan komunikasi harus sama-sama dimengerti oleh komunikator dan komunikan.
Sedangkan secara istilah, mengenai definisi komunikasi berbeda-beda tergantung dari sudut pandang orang yang mendefinisikannya. Menurut Onong Uchjana dalam buku “komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain “. Dari pengertian ini menunjukkan bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang.
James G.Robbins dan Barbara S.Jones mendefinisikan komunikasi sebagai “ suatu tingkah laku, perbuatan atau kegiatan penyampaian atau pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti atau makna. Atau perbuatan penyampaian suatu gagasan atau informasi dari seseorang kepada orang lainnya. Atau lebih jelasnya, suatu pemindahan atau penyampaian informasi mengenai pikiran dan perasaan-perasaan “.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi artinya “pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara 2 orang atau lebih sehingga pesan yang diterima dapat dipahami. “
Sven Wahlroos,mendefinisikan komunikasi sebagai “ semua perilaku yang membawa pesan yang diterima oleh orang lain. Perilaku itu bisa verbal atau non verbal. Semua itu masih merupakan komunikasi sejauh membawa pesan “. Jadi jika pesan diterima oleh orang lain, baik disengaja maupun tidak disengaja maka sebenarnya juga telah terjadi komunikasi. Tanpa adanya pesan yang diterima maka komunikasi tidak akan terjadi.
A. Supratiknya membagi arti komunikasi secara luas dan secara sempit. Menurutnya secara luas komunikasi adalah “ setiap bentuk tingkah laku seseorang baik verbal maupun non verbal yang ditanggapi oleh orang lain. Sedangkan secara sempit komunikasi diartikan sebagai pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku sipenerima “. Sebagai contoh yaitu iklan produk tertentu yang ditayangkan ditelevisi yang secara sadar dimaksudkan untuk emmpengaruhi pemirsa televisi. Komunikasi yang digunakan ada yang merupakan komunikasi verbal yang merupakan kata-kata dan ada yang menggunakan lambang seperti gambar-gambar dan ada pula yang berupa mimik wajah yang merupakan komunikasi non verbal.
Smith Braler dan Sim seperti dikutip oleh Sanapiah S.Faisal menyatakan bahwa komunikasi adalah “ proses di mana sebuah pesan (berita) yang meliputi seperangkat arti disampaikan kepada seseorang atau banyak orang dengan jelas sehingga arti yang diterima sama dengan arti yang dimaksudkan oleh sipenyampai pesan ( berita ) itu.”
Col in Cherry merumuskan komunikasi sebagai pembentukan satuan sosial yang terdiri dari individu-individu melalui penggunaan bahasa dan tanda.
Para ahli komunikasi memberikan batasan-batasan pengertian dan definisi komunikasi antara lain :
a. James Afstoner, dalam bukunya yang berjudul manajemen, menyebutkan bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.
b. John R.Schemerhorn Cs, dalam bukunya yang berjudul, Managing Organization Behavior, menyatakan bahwa komunikasi itu dapat diartikan sebagai proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka.
c. Lalilliam F.Glueck, dalam bukunya yangberjudul, Manajemen menyatakan bahwa komunikasi dapat dibagi dalam dua bagian utama yaitu :
1). Interpersonal Communications, komunikasi antar pribadi yaitu proses pertukaran informasi seta pemindahan pengertian antara dua orang atau lebih di dalam suatu kelompok kecil manusia.
2). Organizational Communications, yaitu di mana pembicara secara sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian kepada orang banyak di dalam organisasi dan kepada pribadi-pribadi dan lembaga-lembaga di luar yang ada hubungan.

Sedangkan pengertian keluarga menurut etimologi yaitu, keluarga berasal dari kata “ Kula “ dan “ Warga “. Kula artinya famili dan warga artinya anggota. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, keluarga adalah “Ibu, Bapak dengan anak-anaknya. “
Ali Akbar dalam bukunya yang berjudul “ Merawat Cinta Kasih “ menyatakan bahwa “ keluarga adalah masyarakat terkecil yang sekurang-kurangnya terdiri dari pasangan suami istri sebagai anggota inti, berikut anak (anak-anak) yang lahir dari mereka. Jadi, setidak-tidaknya anggota keluarga adalah sepasang suami istri bila belum ada anak atau tidak punya anak sama sekali. “
Definisi keluarga menurut Abu Ahmadi adalah “ kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah grup yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan di mana sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak.”
Sc.Utami Munandar mengartikan keluarga dalam arti sempit sebagai “keluarga inti yang merupakan kelompok sosial terkecil dari masyarakat yang terbentuk berdasarkan pernikahan dan terdiri dari seorang suami ( ayah ), istri ( ibu ) dan anak-anak mereka.”
Keluarga itu tentunya terbentuk dari perkawinan dan pernikahan. Wanita dan pria yang hidup bersama tanpa ikatan perkawinan tidaklah disebut keluarga. Oleh sebab itu perkawinan diperlukan untuk membentuk keluarga.
Berdasarkan pengertian komunikasi dan keluarga di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi keluarga adalah proses berbagai atau menggunakan informasi secara bersama antara orang tua dan anak, sehingga akan menimbulkan pengertian yang mendalam karena komunikasi dalam keluarga memegang peranan yang sangat penting, maka hal ini tidak boleh dianggap sederhana, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an,yang
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ ( Q.S.At-Taghabun/64 :14 )

Dari ayat di atas dapat diambil pelajaran bahwa dalam suatu keluarga dapat terjadi perselisihan dan permusuhan, hal ini bisa terjadi jika tidak adanya saling pengertian dan komunikasi yang baik. Antara sesama anggota keluarga harus ada pengertian yang mendalam.
Al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam telah banyak memberikan pelajaran tentang komunikasi yang baik, berikut ini sebuah contoh komunikasi yang baik menurut Al-Qur’an sehingga dapat menjadi pelajaran,
Artinya : ” Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". “( Q.S.Ash-Shafaat/37 :102 )

Dari arti ayat di atas, jelas terlihat adanya komunikasi dua arah yang sangat harmonis antara bapak dan anak. Untuk melakukan sesuatu Nbi Ibrahim selalu mendiskusikannya kepada Ismail anaknya dan ia memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengungkapkan pendapat anaknya. Hal ini menggambarkan suasana yang sangat demokratis dalam suatu keluarga sehingga komunikasi tidak hanya terjadi satu arah saja. Dalam dialog itu juga bahasa yang digunakan sangat indah, hal ini menggambarkan adanya saling menghormati dan menghargai antara sesama anggota keluarga sehingga menimbulkan pengertian yang mendalam dan perselisihan dapat dihindari.
2. Proses Komunikasi dalam Keluarga
Dari pengertian komunikasi keluarga di atas, tampak adanya sejumlah unsur atau komponen yang dicakup yang merupakan persyaratan dalam proses terjadinya komunikasi. Dalam bahasa komunikasi komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut :
a. Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan
b. Pesan, yaitu pernyataan yang didukung oleh lambang
c. Komunikan, adalah orang yang menerima pesan
d. Media, yaitu sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya
e. Efek, yaitu dampak sebagai pengaruh dari pesan.
Ada dua cara untuk mengkomunikasikan sesuatu yaitu dengan komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata, baik yang dinyatakan secara lisan atau tulisan, komunikasi verbal merupakan karakteristik khusus dari manusia. Tidak ada makhluk lain yang dapat menyampaikan bermacam-macam arti melalui kata-kata, kata-kata dapat dimanipulasi untuk menyampaiakan secara eksplisit sejumlah arti.
Sedangkan komunikasi non verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata seperti komunikasi yang menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan. Dengan komunikasi non verbal orang dapat mengekspresikan perasaannya melalui ekspresi wajah dan nada atau kecepatan berbicara. Kadang-kadang komunikasi non verbal lebih efektif untuk mengungkapkan perasaan.
3. Urgensi dan Tujuan Komunikasi Keluarga
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak bisa mengesampingkan keberadaan orang-orang di sekitar kita, dalam banyak hal kita memerlukan orang lain, demikian pula orang lain terhadap kita. Dalam kehidupan sehari-hari, aktifitas seseorang pasti melibatkan lingkungannya meskipun tidak secara langsung, bahkan keterlibatan tersebut memang merupakan kebutuhan.
Salah satu bentuk kebutuhan untuk melibatkan lingkungan adalah adanya kebutuhan untuk berkomunikasi. kebutuhan untuk berkomunikasi merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, untuk berhubungan dengan orang lain dibutuhkan komunikasi, pada saat tertentu seseorang perlu bercakap-cakap dengan orang lain dalam suasana santai di mana ia dapat bercerita sepuas hatinya mengenai berbagai hal. Dengan demikian diperlukan seseorang yang bersedia mendengarkan, menerima dan menanggapi segala bentuk perasaan yang dikemukakan dengan penuh perhatian.
Pada umunya para orang tua menyadari bahwa dalam interaksi manusia, seseorang tidak dapat tetap diam dalam waktu lama, orang menginginkan semacam interaksi verbal. Jelaslah bahwa orang tua harus berbicara dengan anak-anak dan anak-anak butuh berbicara dengan orang tua, bila mereka menghendaki hubungan yang erat.
“ Seorang anak yang di rumah tidak biasa bercakap-cakap, kurang belajar berkomunikasi, biasanya akan malu-malu dan menarik diri bila ia berhadapan dengan orang lain. Ia pun kurang mempunyai kepekaan terhadap sikap orang lain, ia tidak belajar bagaimana harus bereaksi terhadap sikap orang yang berbeda-beda.”
Tanpa adanya komunikasi dengan anak, orang tua menjadi kurang tanggap akan kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan yang ada pada anak. Orang tua tidak tahu sejauh mana perkembangan anak. Anak pun akan merasa keberadaannya diabaikan dan tidak dihargai. Hal ini akan menimbulkan permasalahan lain bagi suatu keluarga.
Komunikasi antar pribadi sangat penting bagi kebahagiaan hidup kita. Menurut Johnson seperti yang dikutip oleh A.Suplatiknya, menunjukkan beberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi antar pribadi dalam rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia yaitu :
a. Komunikasi antar pribadi membantu perkembangan intelektual dan sosial kita. Perkembangan kita sejak masa bayi sampai masa dewasa mengikuti pola semakin luasnya ketergantungan kita kepada orang lain. Diawali dengan ketergantungan atau komunikasi yang intensif dengan ibu pada masa bayi, lingkaran ketergantungan atau komunikasi itu menjadi semakin luas dengan bertambahnya usia kita. Bersamaan proses itu, perkembangan intelektual dan sosial kita sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi kita dengan orang lain itu.
b. Identitas atau jati diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain. Selama berkomunikasi dengan orang lain, secara sadar maupun tidak sadar kita mengamati, memperhatikan dan mencatat dalam hati semua tanggapan yang diberikan oleh orang lain terhadap diri kita. Kita menjadi tahu bagaimana pandangan orang lain itu tentang diri kita. Berkat pertolongan komunikasi dengan oran lain kita dapat menemukan jati diri yaitu mengetahui siapa diri kita sebenarnya.
c. Dalam rangka memahami realitas di sekitar kita serta menguji kebenaran kesan-kesandan pengertian yang kita miliki tentang dunia sekitar kita, kita perlu membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain tentang realitas yang sama.
d. Kesehatan mental kita juga sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungan kita dengan orang lain, bila hubungan kita dengan orang lain mengalami berbagai masalah, maka kita tentu akan menderita, cemas. Sedih dan frustasi.

Dengan komunikasi seseorang dapat menyampaikan informasi, ide ataupun pemikiran, pengetahuan, konsep dan lain-lain kepada orang lain secara timbal balik, baik sebagai penyampai maupun sebagai penerima komunikasi. Dengan komunikasi manusia dapat berkembang dan dapat melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Tujuan mengadakan komunikasi itu bermacam-macam, tetapi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan besar yaitu untuk memberikan informasi dan untuk memberikan motivasi.
Tujuan informasi untuk mengubah konsep-konsep yang ada pada penerima informasi ( apa yang ia ketahui selama ini ). Sedangkan fungsi motivasi dimaksudkan untuk menimbulkan perubahan pada kecenderungan atau perasaan si penerima informasi. Orang tua tidak hanya sekedar memberikan informasi kepada anaknya tentang kenyataan-kenyataan dari kehidupan. Orang tua itu juga akan berusaha untuk mempengaruhi sikap si anak terhadap moralitas di samping untuk memperluas pengetahuan si anak.
Menurut AW.Widjaya, pada umumnya komunikasi dapat mempunyai beberapa tujuan, antara lain :
1. Supaya yang kita sampaikan dapat dimengerti
2. Memahami orang lain, antara sesama anggota keluarga harus mengetahui benar apa yang dikehendaki anggota keluarga lainnya.
3. Supaya gagasan kita diterima orang lain
4. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu.
Harold Lasswell seperti dikutip oleh Abdillah Hanafi, yang ahli ilmu politik dan seorang pioner dalam kajian komunikasi, menyebut ada tiga fungsi sosial komunikasi :
1. Menjaga lingkungan
2. Menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dari masyarakat untuk menanggapi lingkungan.
3. Menurunkan warisan sosial dari generasi satu ke generasi berikutnya.
Jelaslah bahwa komunikasi yang baik dalam sebuah keluarga sangatlah penting, dengan demikian maka konflik antara sesama anggota keluarga dapat diminimalisasikan dan masing-masing memahami sikap anggota keluarga lainnya.

4. Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Keluarga
Seperti telah disinggung di atas, ada beberapa hal yang bisa dicapai dengan adanya komunikasi, yaitu adanya perhatian, pengertian, penerimaan, ataupun tindakan di antara pihak-pihak yang melakukan komunikasi. Secara umum, komunikasi bisa dikatakan gagal bila tujuan yang ingin dicapai dari adanya komunikasi tersebut tidak bisa terpenuhi.
“ Tidak tercapainya tujuan komunikasi dimungkinkan oleh banyak hal, antar lain : suasana hati, perbedaan persepsi, kecenderungan hanya memperhatikan hal-hal yang diharapkan, penilaian terhadap sumber informasi, mengesampingkan hal-hal yang tidak ingin didengar, alat atau cara komunikasi yang tidak tepat, atau gangguan dari luar ( misal : suara gaduh).”
Kadang-kadang kesibukan orang tua dan banyaknya masalah yang dihadapi, perhatian terhadap anak jadi berkurang. Kalau setiap saat anak mau menceritakan sesuatu tidak diperhatikan atau dibantah, akibatnya anak tidak mau lagi bercerita. Lama kelamaan akan timbul gangguan pada anak. Ia akan menutup diri terhadap orang tuanya, sehingga komunikasi antara orang tua dan anakpun jadi terhambat. Kegagalan komunikasi antara orang tua dan anak ini biasanya akan menyebabkan anak bertingkah laku agresif dan sukar mengadakan kontak dengan orang tuanya.

Dalam kenyataan sehari-hari, komunikasi dalam keluarga sering tidak mencapai harapan disebabkan hal-hal di atas. Seorang ayah pulang dari kantor dengan hati kesal karena ada masalah di kantor dengan atasannya, sesampainya di rumah anaknya melaporkan hasil ulangannya yang tidak memuaskannya, karena masih kesal dengan kejadian di kantor, ayah marah-marah dan mengatakan anaknya bodoh, malas dan sebagainya. Akibatnya anak semakin tidak puas dan takut untuk membicarakan permasalahan yang ia temui yang ia tidak dapat memecahkannya sendiri, pada hal ia perlu saran dan dorongan dari orang yang lebih dewasa.
Kegagalan dalam komunikasi ini dapat pula terjadi bila orang tua terlalu kukuh pada pendapatnya sendiri. Jika setiap kali mengemukakan sesuatu selalu mendapat bantahan atau kritikan dari orang tuanya, lama-lama anak tidak mau lagi mengajukan pendapatnya.
Menurut Hasan Basri, secara umum sumber penyebab terjadinya kegagalan-kegagalan komunikasi ada tujuh yaitu :
a. Di laksanakan dengan tergesa-gesa
b. Sewaktu pelaksanaan pikirannya sedang kacau
c. Perasaan sedang terganggu ( emosional )
d. Kesehatan kurang / tidak baik
e. Berprasangka
f. Kurang atau tidak baik dalam bahasa
g. Mau menang sendiri.

Sedangkan menurut Drs.Matindas, seperti dikutip oleh Alex Sobur, “ada banyak hal yang dapat menghambat suatu komunikasi, diantaranya yang paling sering terjadi adalah kesalahan penafsiran. Salah penafsiran ini umumnya disebabkan oleh adanya kata-kata yang mempunyai arti ganda.”
Selain diperlukannya upaya guna menghindari salah paham, perlu juga diusahakan agar komunikasi berlangsung secara kontruktif. Kontruktif tidaknya suatu komunikasi ditentukan oleh menyenangkan tidaknya cara pesan itu disampaikan.
5. Usaha-usaha untuk Menciptakan Suasana Komunikatif
Barang kali orang tua mengira sudah cukup berkomunikasi dengan anak-anaknya. Bukankah setiap orang tua hampir tidak pernah kekurangan kata-kata yang dilontarkan kepada anak-anaknya. Namun komunikasi yang baik tidak dapat diukur dengan kata-kata yang diucapkan. Komunikasi memerlukan usaha, pengertian serta latihan banyak.
Meluangkan waktu bersama merupakan syarat utama menciptakan komunikasi antara orang tua dan anak, sebab dengan adanya waktu bersama barulah keintiman dan keakraban dapat diciptakan di antara anggota keluarga. Bagaimanapun juga tak seorang pun dapat menjalin komunikasi dengan anak bila mereka tak pernah bertemu ataupun bercakap-cakap bersama. Bagaimanapun sibuknya orang tua bekerja, mereka harus menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya misalnya saat menonton televisi bersama di hari libur, saat makan malam bersama atau selesai shalat subuh berjamaah. Saat-saat seperti inilah suasana komunikatif antara orang tua dan anak dapat tercipta meskipun dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jadi kualitas pertemuan itulah yang terpenting bukan lamanya waktu pertemuan tersebut.
Ada tiga resep yang mendasar untuk mengadakan komunikasi yang efektif dengan anak dan merupakan kunci bagi keberhasilan membina keakraban dengan anak “pertama, mencintai anak tanpa pamrih dan sepenuh hati, kedua memahami sifat dan perkembangan anak dan mau mendengarkan mereka, ketiga menciptakan suasana yang menyegarkan.”27
Jika ada orang tua mengeluh bahwa anak-anak mereka tidak pernah membicarakan masalah-masalah serius di rumah. Biasanya ternyata bahwa masalah-masalah tersebut sudah dikemukakan dengan hati-hati dan ragu-ragu oleh anak, tetapi orang tua menanggapinya dengan cara mengajarinya, memberi peringatan, menilai dan megalihkan perhatian. Lambat laun anak akan memisahkan diri dan menutup diri pada orang tuanya. Orang tua biasanya tidak mendengarkan, mereka hanya mengajar, membenarkan, mencela dan mengejek pesan-pesan anak yang tengah tumbuh.
Menurut Thomas Gordon, “ Salah satu cara efektif dan konstruktif dalam menghadapi ungkapan perasaan atau ungkapan persoalan anak-anak adalah membuka pintu atau mengundang berbicara lebih banyak.”
Menurut Dr.Haim G.Ginott dalam bukunya “ Betwen Parent and Child“ yang dikutip oleh Alex Sobur mengemukakan bahwa, cara baru berkomunikasi dengan anak harus berdasarkan sikap menghormati dan keterampilan. Hal ini mengandung dua arti :
1. Tegur sapa, tidak boleh melukai harga diri anak maupun orang tua
2. Terlebih dahulu orang tua harus menunjukkan pengertian kepada anak, baru kemudian memberikan nasehat atau perintah.
Makan bersama merupakan kesempatan emas untuk melibatkan anak dalam percakapan, memperakrab hubungan dan menanamkan nilai-nilai kebersamaan kepada anak. Bagi anak-anak makan bersama merupakan suatu peristiwa yang menyenangkan, meskipun ia tidak benar-benar menikmati makanannya, justru ia lebih menikmati kesempatan untuk duduk bersama orang tuanya di meja makan.
Para ahli berpendapat bahwa, “ saat makan bersama merupakan yang paling penting untuk berkomunikasi. Mereka juga mengatakan bahwa ada hubungan antara kehangatan keluarga dalam sebuah rumah tangga dengan kehidupannya di sekitar meja makan. Di meja makan inilah rasa kasih sayang timbul.”
Cara menyelenggarakan suatu percakapan yang menyenangkan dengan anak-anak ialah dengan menempatkan diri orang tua sesuai dengan suasana yang diciptakan oleh anak, yakni orang tua harus mencurahkan perhatian penuh dan menunjukkan sikap yang simpatik, mata orang tua harus tertuju kepada wajah mereka, sambil memperhatikan raut muka mereka, apakah yang terpancar lucu, menyedihkan atau menjengkelkan. Setelah itu orang tua baru menunjukkan responnya.

B. Sikap Sosial Anak
1. Perkembangan Sikap Sosial Anak
Sikap sosial secara umum adalah hubungan antara manusia dengan manusia yang lain, saling kebergantungan dengan manusia yang lain dalam berbagai kehidupan bermasyarakat. Sedang pendapat lain mengatakan interaksi di kalangan manusia ; interaksi adalah komunikasi dengan manusia lain, hubungan yang menimbulkan perasaan sosial yaitu perasaan yang mengikatkan individu dengan sesama manusia ; perasaan hidup bermasyarakat seperti saling tolong menolong, saling memberi dan menerima, simpati dan antipati, rasa setia kawan, dan sebagainya.

Perkembangan sosial merupakan suatu hasil kematangan dalam hubungannya dengan pergaulan sosial ( masyarakat ). Dengan perkembangan sosial berarti bahwa pada usia-usia tertentu akan berkembang sifat-sifat yang tertentu pula, dan perkembangan ini berbeda-beda sesuai dengan adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya.
“ Kehidupan sosial seorang anak pada permulaan terjadi bukan dengan anak-anak sebayanya, tetapi dengan orang dewasa.” Orang dewasa yang pertama-tama dekat dengannya ialah ibunya. Sejak bayi ia sudah menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain. Dengan bahasa tangisanlah bayi bersosialisasi dengan lingkungannya. Ia tersenyum dan kadang-kadang menangis, dia akan berhenti menangis bila ada orang yang menjumpai dan memenuhi keinginannya.
Charlotte Buhler seperti yang dikutip oleh Abu Ahmadi, membagi tingkat perkembangan sosial anakmenjadi 4 ( empat ) tingkatan sebagai berikut :
a. Tingkatan pertama ; sejak dimulai umur 0, 4-6 bulan, anak mulai mengadakan reaksi positif terhadap orang lain, antara lain ia tertawa, karena mendengar suara orang lain. Anak menyambut pandangan orang lain dengan pandangan kembali dan lain-lain.
b. Tingkatan kedua : adanya rasa bangga senang yang terpancar dalam gerakan dan mimiknya, jika anak tersebut dapat mengulangi yang lainnya. Tingkatan ini biasanya mulai muncul pada anak usia 2 tahun ke atas. Contoh, anak yang berebut benda atau mainan, jika menang dia akan kegirangan dalam gerak dan mimik.
c. Tingkatan ketiga : jika anak telah lebih dari umur 2 tahun ke atas , mulai timbul perasaan simpati (rasa setuju) dan atau rasa antipati (rasa tidak setuju) kepada orang lain, baik yang sudah dikenalnya atau belum.
d. Tingkat keempat : pada masa akhir tahun kedua, anak setelah menyadari akan pergaulannya dengan anggota keluarga, akan timbul keinginan untuk ikut campur dalamgerak dan lakunya.

Reaksi-reaksi sosial pada tahun-tahun pertama, sebenarnya bertujuan untuk menambah kematangan dan kesanggupan bergaul dengan orang lain. Anak mulai mematuhi dan mentaati peraturan-peraturan dalam masyarakat kecilnya. Setelah selesai masa egosentris, yaitu pada saat ia berusia kurang lebih empat tahun dan seterusnya. “ walaupun ketika berumur 3 tahun anak mulai mau bekerja sama dengan teman, membagi-bagikan mainan, namun sifat yang dimiliki masih bersifat egosentris, kurang begitu memperhatikan perasaan orang lain.”
Kontak sosial merupakan segi yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Kontak dengan anggota keluarga di dalam rumahnya, dengan teman-teman sebayanya, dengan orang dewasa lainnya di samping kedua orang tuanya dan dengan orang-orang yang baru ditemuinya. Semua itu sangat penting demi pembetulan watak, rasa percaya diri dan kemandiriannya. Bila kita lihat anak-anak yang tidak banyak memperoleh peluang untuk melakukan kontak sosial, akan nampak bahwa penampilannya jauh berbeda dengan anak-anak yang dibiarkan bebas melakukan kontak sosial itu.
Setelah anak memasuki dunia sekolah, terutama setelah berumur 5-8 tahun, anak mulai bermain bersama membuat kelompok dan gang. “ Kelompok tersebut dibuat berdasarkan kesamaan tujuan, kesetiakawanan dan keakraban.”35 Keinginan untuk memperluas lingkungan sosialnya mendorong anak untuk lebih banyak bermain di luar rumah. Ia tidak mau lagi bermain ayunan di halam rumah atau di sekitar rumah. Selain karena pertambahan usia, hal ini disebabkan anak sudah sanggup berpisah dengan ayah dan ibunya, karena aktifitasnya sudah semakin luas. Ia tidak banyak lagi bergantung pada kedua orang tuanya, dan rasa ingin tahunya bertambah besar sehingga ia cenderung menghabiskan waktunya di rumah teman-temannya di mana ia dapat memuaskan rasa ingin tahunya tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata tidak setiap anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Keberhasilan anak menyesuaikan diri dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
a. Tergantung di mana anak itu dibesarkan, yang dimaksud di sini ialah kehidupan di dalam keluarga.
b. Kesulitan lain terjadi karena anak tidak memperoleh “model” yang baik di rumah terutama dari orang tuanya. Orang tua yang seharusnya memberi contoh yang baik ternyata sering kali bersikap dan bertingkah laku agresif. Kehidupan emosi yang cepat marah dan sebagainya. Biasanya anak-anak yang merupakan “hasil” keluarga tersebut, akan mengalami kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain di luar rumah.36

Umumnya pada usia sekitar 6-7 tahun, anak masih mau di pimpin, tetapi setelah menginjak usia 10 tahun, anak berangsur-angsur menunjukkan sikap menentang sampai suatu saat ia tidak mau dipimpin lagi. Dengan meningkatnya usia anak menjadi lebih sosial aktif, terjadilah hubungan antar sebaya. Anak yang oleh orang tuanya terlalu dikekang dan tidak boleh bermain dengan teman-temannya maka anak tersebut akan kurang dalam bersosialisasi dengan orang lain. Sosialisasi anak dengan teman-temannya mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positifnya yaitu anak akan belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memperoleh pengalaman baru, sedangkan dampak negatifnya yaitu jika anak tidak punya prinsip hidup yang kuat maka anak akan gampang mengikuti kebiasaan buruk temannya, di sinilah dibutuhkan kontrol dan pengawasan dari orang tua untuk memberi tahu norma baik dan buruk di masyarakat.
Anak mulai mengalami perkembangan kepribadian sosial dan mulai mencari konsep hidup, meskipun dalam nilai religi, etik dan estetika belum mendalam. Karena itu pada usia ini penyaluran di bidang sosio-budaya dan keagamaan hendaknya mendapat perhatian lebih dari orang tuanya.
2. Peranan Keluarga Terhadap Perkembangan Sosial Anak
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia di mana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Di dalam keluarga manusia pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja sama, bantu-membantu dan lain-lain. Dengan kata lain ia pertama-tama belajar memegang peranan sebagai makhluk sosial yang memiliki norma-norma dan kecakapan-kecakapan tertentu dalam pergaulannya dengan orang lain.
Pengalaman-pengalamannya dalam interaksi sosial dalam keluarganya turut menentukan pula cara-cara tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluarganya, di dalam masyarakat pada umumnya. Apabila interaksi sosialnya di dalam keluarga karena beberapa sebab tidak lancar atau tidak wajar, kemungkinan besar interaksi sosial dengan masyarakat pada umumnya juga berlangsung tidak wajar.
Jadi selain keluarga itu berperan sebagai tempat manusia berkembang sebagai makhluk sosial, terdapat pula peranan-peranan tertentu di dalam keluarga yang dapat mempengaruhi perkembangan individu sebagai makhluk sosial yaitu :
a. Peranan sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi keluarga dapat juga berperan terhadap perkembangan anak-anak, yang orang tuanya berpenghasilan cukup lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan. Begitu pula sebaliknya, hubungan sosial anak-anak yang keluarganya mampu, mempunyai corak yang berbeda, orang tua mereka dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam, sebab tidak disulitkan olehkebutuhan-kebutuhan primer, seperti mencari nafkah sehari-hari. Namun demikian status sosial ekonomi tidaklah dapat dikatakan sebagai faktor yang mutlak, sebab hal ini tergantung pula kepada sikap orang tua dan corak interaksi dalam keluarga itu.
b. Keutuhan keluarga
Yang dimaksud keutuhan keluarga ialah pertama-tama keutuhan struktur keluarga, yaitu bahwa di dalam keluarga itu ada ayah, ibu dan anak-anaknya. Selain itu dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga, jadi bahwa di dalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmosnis). Apabila orang tuanya sering cekcok dan menyatakan sikap saling bermusuhan dengan disertai tindakan-tindakan yang agresif, keluarga itu tidak dapat disebut utuh.
c. Sikap dan kebiasaan-kebiasaan orang tua
Cara-cara dan sikap-sikap dalam pergaulan kedua orang tua memgang peranan yang penting dalam perkembangan sikap sosial anak. Hal ini mudah diterima apabila kita ingat bahwa keluarga itu sudah merupakan kelompok-kelompok sosial dengan tujuan-tujuan, struktur, norma-norma, dinamika kelompok termasuk cara-cara kepemimpinannya yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut.
d. Status Anak
Status anak juga berperan sebagai suatu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial anak di dalam keluarganya. Yang dimaksud status anak, misalnya sebagai anak tunggal, status anak sulung atau anak bungsu di antara kakak adiknya.

Keutuhan keluarga yang dimaksud bukan saja keutuhan dalam struktur keluarga akan tetapi juga harus tinggal bersama. Orang tua yang tinggal berjauhan dengan anaknya akan mempunyai pengaruh yang kurang baik bagi perkembangan sosial anak karena komunikasi antara keduanya tidak berjalan lancar.
3. Arti Pergaulan dan Teman bagi Anak
Meskipun dalam taraf usia balita anak-anak masih bisa menjadi asik dalam kegiatannya sendiri, dalam kenyataan kalau mereka sedang bersama-sama dengan teman-teman sebayanya, mereka cenderung menyatu dan bertukar pengalaman. Mereka juga bisa menikmati permainan secara berdampingan seakan-akan tidak ada masalah, karena anak seumur itu dapat saling menikmati keikut sertaan anak lain sebayanya.
Selain itu, anak-anak kecilpun sudah mulai mengembangkan perasaan saling mengasihi antara satu dengan yang lain, hal ini merupakan permulaan timbulnya kesadaran dan simpati terhadap perasaan yang hinggap pada anak lain. Boleh dikatakan anak mulai belajar memahami perasaan orang lain.
Setiap anak tentu ingin mempunyai teman bergaul dan bermain, mereka memang memerlukan teman bermain agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Keinginan untuk selalu mempunyai seseorang di dekatnya sudah tampak pada masa permulaan kehidupan seorang anak, yaitu pada saat seorang bayi menangis terus sebelum ada yang datang untuk menemaninya.
Jika sang anak menjadi lebih besar, kebutuhan ini akan semakin meningkat. Pertama kali yang diinginkannya adalah melakukan sesuatu bersama orang lain, semua yang bisa memenuhi keinginannya itu dianggapnya sebagai sahabat, meski sebetulnya orang tersebut boleh dikatakan sudah dewasa.
E.Hurlock seperti dikutip oleh Singgih D.Gunarsa, mengemukakan tiga bentuk cara berkawan pada anak-anak :
a. Orang-orang yang berkawan atau bergaul dengan anak-anak hanya dengan melihat atau mendengarkan perkataan-perkataan mereka tanpa melakukan interaksi langsung dengan mereka.
b. Teman sebaya adalah bentuk yang kedua, yaitu teman di mana mereka biasa bermain dan melakukan aktifitas bersama-sama, sehingga menimbulkan rasa senang bersama. Biasanya usia mereka sebaya dan juga dari jenis kelamin berbeda.
c. Ialah yang disebut sebagai teman sesungguhnya, dalam pengertian di mana anak tidak saja ikut bermain bersama tetapi juga mengadakan komunikasi, memberikan pendapat dan saling mempercayai satu terhadap lainnya. Kebanyakan mereka menyenangi teman sebaya.

Menurut para ahli, pengalaman bergaul sangat besar pengaruhnya bagi proses perkembangan sosial seorang anak, baik pengalaman yang sangat pahit maupun yang manis. Keduanya sama pentingnya, dalam saat-saat bermain dengan teman, anak akan menyadari bahwa pergaulan tidaklah selalu menyenangkan, bahkan seringkali amat keras. Dengan bergaul anak akan menghadapi kenyataan pahit dan manis yang mungkin tidak pernah terjadi dalam keluarganya.
Melalui pengalaman interaksinya dengan anak-anak lain, seorang anak akan mengetahui apa sebenarnya yang ia harapkan dari orang lain dan juga apa yang diharapkan orang lain dari dirinya. Kesadaran ini sangat, bukan saja dalam masa kanak-kanak, melainkan juga sepanjang hidupnya.

Tidak ada komentar: